Sepagi itu, di hari Rabu yang mendung, tahun 2009, aku sudah sampai di kampus, kampus tempat dimana aku memulai semuanya, khsususnya tentang perjalanan hidupku, mencoba merasakan kembali arti dari sebuah perjalanan hidup bagi seorang biasa sepertiku. Mungkin banyak cerita orang-orang lain yang berhasil sukses, namun berasal dari keluarga sederhana, sebut saja seperti Bapak Chairul Tanjung, yang baru-baru ini meluncurkan buku mengenai biografinya. Jujur, aku ingin sekali membaca kisahnya, pasti penuh inspiratif.
Namun, kali ini aku ingin bercerita suatu hal yang berbeda dik, bukan tentang perjalanan hidupku lagi, tapi mengenai sebuah kenangan hidup yang sampai saat ini aku masih mengingatnya, setidaknya ini dapat menjadi oleh-oleh buat anak cucuku nanti.
Di Rabu itu aku memang sudah mempersiapkan semuanya, aku berencana ingin membuat kejutan kecil untuknya, dengan menghadiahkan 10 Pembatas Buku kepada seorang wanita yang sekarang ia adalah kakak iparmu. Aku masih ingat sampai sekarang, ide ini terbesit dikala aku tidak sengaja mendengar berita tentang selebritas kita, di statsiun TV swasta, aku mendengarnya disaat aku tengah makan siang di sebuah warung khas sunda dekat kampus, 2 pekan sebelum Rabu itu, aku lupa di program apa acara yang kudengar itu diputar. Inti dari beritanya adalah seorang aktris sangat terkesima dan malu-malu (blushing) mungkin disaat kekasihnya pada saat itu mencoba menarik perhatiannya dengan cara menyelipkan kertas-kertas berisi kata-kata cinta, di salah satu bagian yang ada dikamarnya, tanpa diketahui olehnya, jika ia menemukan selipan kertas itu pasti akan tersenyum-senyum sendiri, pikirku. Ya aku ingat nama aktris itu, mungkin kamu kenal dik, dia adalah pelantun lagu “Tentang Kamu”.
Sejak mendengar berita aktris itu, aku seperti mendapatkan inspirasi dik, aku mencoba membuat 10 pembatas buku berlogo hati, setiap pembatas buku itu berisi pesan yang berbeda-beda, salah satunya adalah “Keep Fight Until End”, aku akan mencoba menaruhnya di tempat tersembunyi di bagian rumahnya. Aku berimajinasi, jika seandainya dia tengah gundah atau dilanda kepanikan, setidaknya aku dapat menyemangatinya dengan pesan dari pembatas buku itu meski aku tidak hadir didekatnya.
Alhasil, sampailah pada hari Selasa dik, sehari sebelum hari Rabu itu, aku telah selesai membuatnya, perpaduan kertas karton berwarna hijau dan merah jambu yang sengaja aku buat berlogo hati itu siap untuk dilaminating, Kuperhatikan pembatas itu satu persatu, tampak bagus kulihat, meski ada banyak kekurangan dari segi pola hatinya, maklumlah aku membuatnya hanya memakai tangan saja. Kenapa ada 10 buah, aku tidak tahu alasannya, yang terpikirkan olehku adalah harus cukup dalam satu plastik kertas laminating, sehingga tidak mubazir nantinya karena ada bagian plastik yang tidak terpakai.
Setelah kurasa cukup tanpa perbaikan, aku kemasi semuanya, kumasukkan dalam sebuah plastik berukuran tanggung, yang biasa dipakai untuk menaruh kertas fotokopi, aku memutuskan untuk melaminting kesepuluh hati itu esok, sebelum masuk kuliah pagi. Ini adalah kali pertama aku membuat sebuah kerajinan untuk seseorang, seseorang yang bisa menerimaku apa adanya, baik buruknya aku, tanpa memaksa aku untuk menjadi seperti ini atau itu dan yang paling membuatku merasa baik adalah, dia berusaha menunjukkan bahwa aku itu ada, tidak usah mempedulikan apa status sosialku, bagaimana bentuk fisikku, aku merasakan itu, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu.
Ini dia, kudatangi salah satu kios fotokopi yang sudah buka sepagi itu, jam 7, di jalan Pesanggrahan, tepat di samping kampusku, daerah Ciputat, biasanya mereka buka jam 8 setiap harinya. Kusapa penjaganya, yang kebetulan dia adalah orang Padang,
“Assalamu’alaikum, Uda, mau fotokopi donk”, ujarku memulai pembicaraan,“Uda”, begitulah kami biasa memanggilnya, walaupun tidak tahu siapa namanya.
“Iya, sebentar”, jawabnya karena masih asik membersihkan debu-debu diatas meja kaca display barang-barang ATK nya.
“Berapaan da, mau laminating satu halaman ukuran A4?”, tanyaku sambil memperhatikan tangannya terus mengelap kaca itu dengan kain kotak-kotak wana merah yang sudah memudar warnanya menjadi pink.
“mmm, 5000 aja”, jawabnya singkat.
“Ok da, bikin 1 kali laminting aja ya”, pintaku.
Sekitar 15 menitan aku menunggu di depan kiosnya, berharap bahwa kesepuluh pembatas itu muat dalam 1 plastik laminating, Si Uda memutar-mutar posisinya agar dapat masuk semuanya, sebelum akhirnya di press oleh mesin. Kuperhatikan dia nampak sulit mengatur posisinya, namun yasudahlah, aku cuma berpikir itu kan tugas dia, yang penting aku sudah mengukurnya terlebih dahulu dengan kertas HVS ukuran A4 juga, dan behasil masuk seluruhnya dalam satu halaman A4 itu.
Setelah menunggu, aku dapati kesepuluh pembatas itu, sudah dalam bentuk kaku, seperti diawetkan, benar-benar seperti pembatas buku, tak lama Si Uda mengambil gunting dan hendak memisahkannya satu-persatu, dengan sigap aku menolaknya, biarkan aku saja yang mengguntinggya, karena aku ingin ini sebuah hadiah spesial dariku.
Setelah rapih ku gunting, aku nampak cukup puas dengan hasilnya, aku berharap bisa memberikan ini tanpa diketahui olehnya, ada yang kusimpan di pot bunga, di buku bacaannya, di bawah taplak meja, di bawah sofa, di dalam album foto. Ah, tidak kubayangkan bagaimana raut mukanya yang senyum-senyum kecil, ketika ia mendapati sepotong demi sepotong pembatas buku ini. Sampai saat ini aku masih menemukan kesepuluh pembatas itu masih ada di dalam sebuah Al-Qur’an kecil, masih lengkap seperti 3 tahun lalu aku membuatnya. Setidaknya aku memiliki bukti nyata, yang mewakili perasaanku padanya saat itu.
Semoga pernikahan ini langgeng sampai kami kakek nenek, memiliki anak cucu yang sehat dan seleh-salehah. Dik, cerita ini aku sampaikan kepadamu, sebelum aku ceritakan kepada anak-anakku nanti. Jika kamu dapati kebaikan, maka contohlah dan jika tidak, maka jauhilah.
-Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blognya kak julie (Yuliasih Hardy), met milad yang ke-4 ya kak, Keep Posting-




duuuh terharu bacanya, cinta yang tulus selalu akan terasa dimanapun berada namun cinta akan semakin dalam saat ia dinyatakan
very nice
makasih faira udah ikutan yaaa
huaa, ada kak julienya, hehe ^_^, sama-sama kak, makasih juga ya ka, semangat selalu.
Huaah seru banget bikin pembatas buku lope2 ada isi nya juga belakangnya, terharu
AMien semoga menjadi keluarga samara sampai kakek nenek
Aamiin, makasih mba e doanya. ^_^
manis banget love-love nya,
hehehe
memang kreatif nih abi dan umi
makasih mba Nayla, hehe jadi malu nie, (blushing)